Practical Traveling Tips - Part 1: Biar Survive Selama Traveling

Hamamatsu, Shizuoka Prefecture, Japan
Saya bukan seorang travel junkie ataupun punya banyak duit untuk traveling keliling dunia, tapi setidaknya saya ada beberapa pengalaman traveling dan saya ingin berbagi beberapa tips pada saat traveling. Setidaknya tips untuk dapat bertahan hidup selama traveling haha, ini beneran btw. Oiya kalau sempat, boleh lah mampir ke Instagram saya https://www.instagram.com/dwiajik/. Beberapa tips yang saya bagikan ini banyak yang lahir dari pengalaman pahit saya selama traveling, beberapa nggak pahit-pahit amat. Biar semoga Anda nggak mengalami yang pahit-pahit selama traveling.

Bawa Uang Tunai Secukupnya


Horang kaya dong
Waktu itu saya sedang traveling backpacker ke Banyuwangi dan Bali. Selesai saya naik Kawah Ijen dan muter-muter pantai di Banyuwangi, saya melanjutkan perjalanan ke Bali sendirian dengan menyeberang Selat Bali dengan menggunakan kapal feri. Saya pergi ke Pelabuhan Ketapang, beli tiket penumpang tanpa kendaraan yang cuma Rp 6.500, naik kapal feri, lalu sampai ke Pelabuhan Gilimanuk, so far so good.

Lalu saya lanjut perjalanan dengan pergi ke terminal yang berada di depan pelabuhan persis. Waktu naik bus, saya mengambil dompet untuk nyiapin duit buat bayar bus. Lah dompetku mana? Langsung saya turun dari bus dulu, membongkar tas carrier dan semua barang bawaan, dompet bener-bener nggak ada. Di dalam dompet ada KTP, SIM, ATM BCA, ATM Mandiri, Kartu Mahasiswa (ya masih mahasiswa waktu itu), dan uang 1,5 juta. Ini kesalahan saya, ini kayaknya adalah uang terbanyak yang pernah saya masukkan ke dompet saya selama hidup, kecuali pas mau bayar kuliah. Saya biasanya nggak pernah bawa uang di atas Rp 500.000 di dompet, tapi entah kenapa ini saya bawa banyak banget :(. Seharusnya saya nggak perlu bawa uang sebanyak itu juga, orang di Bali juga banyak ATM.

Jadi kalau traveling domestik, yang paling penting adalah manfaatkan kartu ATM untuk bawa duit. Lalu sebaiknya Anda buat ekspektasi jumlah pengeluaran sampai ketemu mesin ATM lagi, jangan bawa uang segepok di dompet.

Baru sampai di Bali, dompet hilang, trus gimana dong? Lanjut di bawah.

Hindari Single Point of Failure (SPOF)

Dompet yang ada duanya
Waktu saya kehilangan dompet beserta isinya pas baru saja sampai di Bali, saya tetep lanjut liburan di Bali dong. Kok bisa? Seperti subjudul ini guys, jangan sampai dompet kita jadi Single Point of Failure (maaf meminjam istilah software engineering). Saya biasanya menyimpan beberapa ATM dan uang di tempat yang berbeda-beda.

Jadi saya punya dua dompet, dompet utama dan dompet kartu. Dompet utama isinya kurang-lebih adalah satu kartu identitas (KTP atau SIM), ATM Mandiri, ATM BCA, Mandiri eMoney, dan segelintir uang. Lalu ada dompet kartu yang isinya kartu apapun selain yang disebutkan tadi. Biasanya di dompet utama saya membawa SIM, bukan KTP. Alasannya adalah pada sebagian besar kesempatan, fungsi KTP dapat tergantikan oleh SIM, tapi fungsi SIM tidak bisa digantikan oleh KTP. Check-in pesawat bisa pakai SIM, tapi kalau razia kendaraan bermotor nggak bisa pakai KTP. Keuntungan dari konfigurasi ini adalah pada sebagian besar kesempatan kita cuma perlu bawa dompet yang tipis, tapi ketika dompet hilang, kita masih bisa hidup (atau liburan -- red).

Jadi di berbagai kesempatan:

  • Simpan uang di beberapa tempat terpisah, misal dompet, tas backpack, tas slempang
  • Miliki dua atau lebih kartu ATM, dan simpan di beberapa tempat terpisah (fault tolerant)
  • Jika dompet hilang, percayalah bahwa masih ada orang-orang baik di dunia ini. Tapi orang baik juga bisa berubah pikiran kalau mau ngembaliin dompet aja susah. Taruhlah kartu nama atau paling tidak nomor HP atau email di dompet, tas, atau apapun yang mudah hilang. Siapa tau yang nemu berniat baik untuk mengembalikan.
Selalu rencanakan apapun menjadi fault tolerant dan hindari single point of failure (pinjam istilah software engineering lagi).

Catat Hal-Hal Kecil

Damri 5945
Jadi waktu itu saya langsung ke pelabuhan untuk laporan kehilangan ke petugas pelabuhan. Saya ditanya nama kapalnya apa (saya nggak tahu), berangkat jam berapa (saya nggak tau tepatnya), dan menepi di dermaga yang mana (nah ini saya inget). Petugas pelabuhan cuma bisa bilang kalau bakal dibantu, dan bakal dihubungi kalau dompet saya ditemukan, tetapi mereka tidak bisa menjanjikan apa-apa selain itu. Saya disarankan untuk membuat surat kehilangan di Polsek Gilimanuk, nggak jauh sih, tapi panas gila.

Poin saya di sini adalah, ketika Anda bepergian menggunakan kendaraan umum, catatlah hal-hal ini:

  • Nomor dan nama kapal/bis/kereta (paling paling penting, harus)
  • Jam berapa berangkat dari mana
  • Jam berapa sampai di mana
  • Ciri kendaraan: warna, ada tempelan iklan apa, ukuran kendaraan, konfigurasi tempat duduk, dll
Pernah saya waktu itu pulang dari Kyushu via Seoul, dan saya transit di Bandara Soekarno-Hatta sebelum kembali ke Jogja. Saya landing di Terminal 2 malam hari dan keesokan harinya bakal terbang lagi dari Terminal 1. Tentu saja saya menggunakan fasilitas bandara naik Shuttle Bus antar terminal. Setelah beberapa saat turun dari Shuttle Bus, saya baru nyadar saya kehilangan amplop yang berisi uang yen hasil reimburse dari program Summer School di Kyushu yang senilai lebih dari Rp 11 juta. GILS, ilang cuy.

Saya langsung lapor ke petugas bandara, waktu itu saya dilempar-lempar naik-turun kesana-kemari di bandara di waktu dini hari sekitar jam 1 (semoga ini dibaca oleh manajemen bandara CGK dan mereka bisa meningkatkan pelayanan). Akhirnya saya ditolong oleh petugas keamanan bandara yang cukup helpful. Dia menanyakan nomor bis, tadi berangkat jam berapa dari terminal mana, sampe di terminal mana jam berapa, bisnya warna apa, ada gambar ininya enggak, dll. Semuanya nggak bisa saya jawab dengan jelas, udah bego, pelupa lagi. Jika saja saya ingat, akan sangat mudah mencari bis yang bersangkutan, lalu bisa dicek langsung ke bisnya.

Akhirnya karena bener-bener nggak inget bisnya, saya diantar oleh petugas yang sangat helpful ini untuk ke pengendapan bis shuttle. Waktu itu diantar pakai mobil patroli karena ternyata tempat pengendapan bisnya jauh bet. Sampai di sana, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah berdoa amplopnya nggak diambil orang, berharap bisnya udah mengendap di sana (udah nggak beroperasi karena udah dini hari), dan mengecek semua bis di sana satu per satu. Untungnya, baru ngecek satu bis, amplop saya ketemu di bawah kursi dalam keadaan kotor banget diinjek-injek orang. Alhamdulillah, masih rejeki. 

Udah dapat urgensinya mencatat hal-hal kecil kan? :)

Selalu Punya Scan Dokumen Penting

Scan dulu. Sumber: office.xerox.com
Kembali ke cerita dompet hilang. Setelah selesai liburan di Bali, saya kembali ke Jogja dan harus mengurus semua-mua kartu yang hilang. Saya waktu itu cukup terbantu karena dalam surat kehilangan dari kepolisian, saya menuliskan nomor kartu KTP dan SIM (iya saya dulu belum misahin dua kartu ini). Saya bisa menuliskan nomornya karena saya punya scan dari kartu-kartu itu. 

Waktu mengurus SIM hilang, akan sangat lebih mudah kalau saya punya scan kartu SIM terakhir yang masa berlakunya belum habis. Sistem pelayanan SIM pusat dan sistem pelayanan SIM keliling belum terintegrasi sehingga dari pelayanan pusat tidak bisa tahu secara langsung kapan terakhir saya perpanjang sih di pelayanan keliling. Jadi pelayanan pusat tidak bisa memastikan bahwa SIM saya yang hilang ini masih berlaku. Kalau sudah nggak berlaku, harus bikin SIM lagi. Ternyata yang saya punya scan-nya adalah kartu SIM lama yang sudah diperpanjang lagi. Sehingga saya harus ke pelayanan SIM keliling untuk meminta memo bahwa SIM terakhir yang saya perpanjang di sana masih berlaku sampai saat itu. Ini nggak mudah guys, harus muter-muter dulu karena informasi yang nggak jelas dan nggak lengkap.


Comments

Popular posts from this blog

Practical Traveling Tips - Part 2: Biar Nyaman Selama Traveling

Reflecting and Improving Your Life Using Your Phone