Cerita Jakarta: Hijrahnya Mbak W

Photo by rawpixel.com on Unsplash

Saya udah lama banget pengen punya gawai (gadget) tablet. Udah sejak dari kapan tahun saya cari kata kunci "tablet" di Tokopedia, Bukalapak, OLX, Shopee, atau apapun itu. Tapi belum ada yang cocok dari spesifikasi dan harga, harga ini yang penting banget sih. Saya pengen beli tablet untuk membaca (buku, artikel, Medium, Qur'an, dll) dan juga untuk menggantikan fungsi-fungsi ringan laptop, misalnya untuk nonton film. Saya cari yang resolusinya tinggi biar enak untuk baca dan harganya murah, tapi ternyata susah nyarinya.

Suatu hari, hari Sabtu, malam Minggu, saya cari-cari lagi di Tokopedia dan OLX. Akhirnya di OLX saya nemu ada yang jual bekas Xiaomi Mi Pad seri 1 atau Mi Pad 7.9. Saya lihat spesifikasinya lumayan, dengan harga yang lumayan miring juga untuk spesifikasi seperti itu, terpampang 1,35 juta. Langsung saya kontak saja nomornya lewat WhatsApp.

Biasa kalau saya tanya-tanya orang di jual beli online saya panggilnya "gan", singkatan dari kata "juragan", dulu sering dipakai di Kaskus. Kadang juga defaultnya saya panggil "mas" walaupun gak tau cowok atau cewek, apa lagi WhatsAppnya nggak ada fot profilnya. Setelah tanya-tanya tentang tabletnya dan tawar-tawar dikit, eh ternyata yang jual bilang "btw aku perempuan", maaf ya mbak.

COD

Photo by Janko Ferlič on Unsplash

Setelah tawar-menawar, akhirnya janjian COD (Cash on Delivery, ketemuan) di McD PGC (Pasar Grosir Cililitan) hari Minggunya. Sebagai pecinta transportasi umum, naik busway dong, soalnya hujan juga. Hampir sejam perjalanan, akhirnya sampai di PGC. Lalu setelah saya tunggu bentar, muncul mbaknya jilbab panjang, kemeja kotak-kotak, dan rok. Karena McDnya tutup, kita masuk ke rumah makan sebelahnya McD.

Mbaknya lalu pesen makan dan minum, laper katanya. Saya pesen minum aja, karena nggak laper juga sih. Setelah itu mbaknya langsung ngeluarin tabletnya, "ini mas". Sekilas saya liat jari-jari dan tangan mbaknya kok kayak ada tatonya gitu. Saya nggak terlalu mikir, langsung ambil aja tabletnya lalu saya cobain.

"Ini kenapa dijual mbak?" sambil saya nyobain tabletnya.

"Ini dulu saya pakai buat internetan aja, baca lirik lagu. Saya dulu penyanyi mas, tapi terus saya hijrah. Saya udah nggak nyanyi lagi, jadi udah nggak saya pakai. Baru dua bulan ini saya hijrah."

Deg. Jangan-jangan tatonya itu juga karena dulu mbaknya penyanyi ya.

Awal Mula Hijrah

Photo by Shu xin on Unsplash

Dia pun cerita dia dulunya seorang penyanyi, sering nyanyi di tempat-tempat kayak Hard Rock. "Ya tahu lah mas, di sana pergaulannya kayak gimana", kata dia. Dia sering nyanyi di luar negeri juga, paling jauh ke Abu Dhabi, terakhir kemarin di Pattaya. Waktu di Pattaya itu lah dia memutuskan untuk hijrah. Dia 5 bulan di Pattaya, 1 bulan sebelum tour di Pattaya selesai, dia bilang ke manajemennya bahwa dia mau resign.

Waktu dia mengatakan alasan dia resign, orang-orang jelas shock dong ya: manajemen, teman-teman, keluarga. Tapi alhamdulillah keinginan mbaknya kuat untuk tetap hijrah.

"Dulu awalnya bisa hijrah gimana mbak?"

Dia bilang awalnya dulu dia cuma baca-baca hukum merayakan ulang tahun, ternyata merayakan ulang tahun itu nggak ada di Islam (ini kata dia ya, karena ada beberapa pendapat mengenai memperingati maulid Nabi, silakan dibaca-baca lagi). Berawal dari situ dia baca-baca lebih lanjut lagi tentang Islam. Lama-kelamaan dia merasa gelisah dengan pekerjaan dan pergaulannya. Pada suatu titik, dia udah nggak bisa fokus lagi untuk nyanyi dan ngafalin lirik lagu, padahal itu pekerjaan sehari-hari dia. Dan akhirnya dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai penyanyi dan hijrah.

Awalnya pun temannya menyarankan untuk pelan-pelan aja hijrahnya, biar bisa sambil nyanyi dulu. Tapi dia berpendapat kalau karir penyanyi yang dia tekuni ini nggak sinkron sama Al-Qur'an. Dan dia pun udah nggak fokus lagi untuk nyanyi. Dia tetap mau hijrah secara total.

Proses Hijrah

Photo by Drew Hays on Unsplash
Dalam hijrah ini, dia mengubah cara berpakaian dia menjadi berhijab panjang dan memakai rok panjang. Dia bilang sebenarnya dia banyak tato di seluruh tubuh, ternyata bener yang di jarinya itu tato. Tapi saya nggak sampai hati untuk tanya lebih jauh soal tato.

Selain itu, karena dia udah resign dan keluar dari dunia yang dulu dia tekuni, dia harus mencari pekerjaan lain. Beruntungnya keluarganya pun ya usaha kue, sehingga dia bisa banting setir untuk membantu usaha keluarganya. Memang yang didapat jauh lebih kecil daripada menyanyi, tapi itu insyaAllah lebih barokah kata dia.

Barang-barang yang ia gunakan untuk berkarir sebagai penyanyi pun dijual semua: baju, sepatu, bahkan tablet yang dipakai buat baca lirik pun. Masya Allah total banget ini mbaknya hijrah. "Nggak saya jual mahal-mahal, yang penting kejual aja semuanya mas" kata dia.

Patut disyukuri bahwa keluarganya cukup suportif untuk momen hijrah mbak ini. Orang tuanya awalnya sedikit mempertanyakan, tapi akhirnya tetap suportif. Suaminya juga mendukung. Suaminya adalah musisi yang sering mengiringi penyanyi-penyanyi nasional. Katanya, karena dia hijrah ini, pelan-pelan suaminya juga mengikuti, walaupun sekarang masih belum hijrah seperti mbaknya.

Akhir Cerita


Setelah selesai ngecek tabletnya dan nawar-nawar dikit lagi, lalu saya transfer uangnya pakai mobile banking di tempat. Ternyata namanya mbak W (inisial aja ya), dari kemarin nggak tahu namanya, tahu gara-gara transfer duit ._.

Waktu udah hampir jam 5 sore, minuman saya juga udah habis. Mbaknya mempersilakan saya kalau mau pulang duluan nggak apa-apa, dia mau ngabisin makanannya dulu. Saya tanyain gimana bayar minumannya, dia bilang "udah nggak apa-apa mas, saya kan habis dapet duit haha". Alhamdulillah.

Photo by Ben Ostrower on Unsplash

Memang nggak ada yang tahu hidayah itu datang dari mana, termasuk saya yang nggak menyangka akan ketemu sama mbak W ini. Semoga mbak W bisa istiqomah dan semoga cerita hijrah mbak W ini bisa menginspirasi kita semua serta menjadi amal jariyah buat dia.

Comments

Popular posts from this blog

Practical Traveling Tips - Part 2: Biar Nyaman Selama Traveling

Reflecting and Improving Your Life Using Your Phone

Practical Traveling Tips - Part 1: Biar Survive Selama Traveling